Kamis, 03 Juli 2008

Poppy S. Wuitono, Pengusaha Lumpia Sulawesi Gading


Beralih ke usaha makanan, profesi lama ditinggalkan. Dengan memilih menjual lumpia Sulawesi, usahanya di lima tempat kian berkembang.

Dari Makassar, Sulawesi Selatan, Poppy S. Wuitono dan keluarganya pindah ke Jakarta. Desakan biaya hidup di ibu kota yang makin membengkak, membuatnya berpikir untuk menambah pendapatan. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sebagai guru, dan menekuni usaha makanan. "Usaha makanan yang paling memungkinkan, karena modalnya tak begitu besar," begitu alasannya.

Kebetulan, sejak muda Poppy suka mencoba membuat variasi lumpia. Setelah mencoba berbagai lumpia dengan ciri daerah masing-masing, dirasanya lumpia Sulawesi yang paling pas, terutama karena resepnya sudah sangat dikuasai. Untuk menjaga kekhasan lumpianya, Poppy menggunakan saus tauco yang khusus didatangkan dari Makasar.

Pada 1987, Poppy membuka usaha pertamanya di sebuah Mal di Kelapa Gading, Jakarta. Meski yang dijual lumpia Sulawesi, konsumen yang dibidik beragam. Poppy ingin lumpianya diterima lidah siapa saja.

Keinginan itu terwujud, sehingga penjualan pun lancar. Untuk memperluas pasarnya, Poppy terus menambah konternya, hingga ada di lima tempat. Asal tahu saja, ketika pengusaha lain banyak yang terhuyung karena didera krismon, usaha Poppy justru kian berjaya.

Agar dagangannya bervariasi, Poppy juga menjajakan aneka gorengan seperti risoles, pastel, bakwan dll.

Dengan menghabiskan dua sak terigu perhari, Poppy menghasilkan sekitar seribu lumpia dan aneka gorengan, yang dijual antara Rp 3.500.
Pada hari-hari raya, kapasitas usahanya naik sampai empat kali lipat. Dalam menjalankan usahanya, Poppy dibantu 10 karyawan.

Meski menjual jenis penganan lainnya, Poppy tetap mengandalkan lumpia Sulawesi. Di samping sebagai khas konternya, juga karena penjual lumpia Sulawesi masih relatif langka. "Setahu saya, baru sayalah yang mengenalkan lumpia ini di Jakarta. Karena itu kualitasnya saya perhatikan betul," aku Poppy.

Kulit lumpia itu rasanya amat gurih dan renyah, dan tidak mudah pecah. Karena itu, kendati harganya jauh lebih mahal dibanding kulit lumpia yang dijual di pasar, tetap banyak pembelinya.

Dari awal Poppy membidik pengunjung Mal-mal, sebagian lagi mahasiswa di kampus. Meski pembelinya kalangan berduit, dia amat hati-hati dalam menentukan harga. "Prinsip saya, kualitas sekelas Mal, tapi harga tetap kaki lima." Prinsip itulah yang menjadi salah satu daya tarik pembeli.

Poppy mengaku masih berencana mengembangkan lagi usahanya, dengan menambah konter baru. "Cita-cita saya, lumpia saya bisa dijumpai di semua Mal Jakarta," kata ibu dua anak ini. Untuk mewujudkan cita-cita itu, Poppy lakukan semuanya dengan hati-hati.